DigiTVNews.com -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Rabu (23/9/2026) dengan tren positif, berbalik menguat setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Penguatan ini tercatat di berbagai sumber data pasar, meski dengan angka yang sedikit bervariasi tergantung waktu pencatatan dan penyedia data.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB, rupiah dibuka terapresiasi 40 poin atau 0,22% ke level Rp17.844 per dolar AS. Sementara itu, data Refinitiv mencatat penguatan lebih tipis sebesar 0,08% atau 15 poin ke posisi Rp17.835 per dolar AS. Beberapa sumber lain bahkan mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp17.817 hingga Rp17.857 per dolar AS di awal sesi. Seluruh angka tersebut menguat dibandingkan posisi penutupan Selasa (22/9/2026) di kisaran Rp17.884 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR BI pada 22 September tercatat di Rp17.883 per dolar AS.
Meski rupiah menguat, penguatan itu terjadi di tengah dolar AS yang masih bertahan dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menguat tipis 0,01% ke posisi 100,612 pada pukul 09.00 WIB, melanjutkan kenaikan 0,17% pada sesi sebelumnya.
Dukungan bagi dolar AS datang dari sinyal sejumlah pejabat The Fed yang membuka ruang pengetatan moneter lanjutan apabila inflasi belum mereda. Kondisi ini turut membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran US$99,22 per barel, sedikit turun dari level tertingginya, seiring harapan pasar bahwa pertemuan Majelis Umum PBB dapat membuka jalan bagi penyelesaian konflik di Timur Tengah, meski ketidakpastian soal berakhirnya konflik tersebut masih membuat pelaku pasar berhati-hati.
Pergerakan rupiah hari ini banyak dipengaruhi oleh penantian pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung dua hari, 22-23 September 2026, dan menjadi momentum penting bagi Gubernur BI definitif Destry Damayanti sejak dilantik pada 2 September 2026.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pergerakan rupiah masih cenderung berkonsolidasi terhadap dolar AS menjelang pengumuman kebijakan BI, dengan proyeksi rupiah bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS sepanjang hari. Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi justru memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah kembali di rentang Rp17.890-Rp17.930 per dolar AS, mengingat tekanan eksternal dari dinamika dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan global masih membayangi.
Sejauh ini, setidaknya sembilan bank sentral dunia telah menaikkan suku bunga acuan, termasuk Bank of Japan dan The Federal Reserve, tren yang turut menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik, sekaligus mengoptimalkan strategi intervensi valas melalui NDF, spot, dan DNDF guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan fundamental perekonomian.
Belum ada komentar yang ditayangkan.