Selasa, 25 Agustus 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Ribuan Robot "Turun Gelanggang" di Beijing, Ini yang Terjadi di World Humanoid Robot Games 2026 ◆ 99,9% Beres! Jaringan BTS di NTT Nyaris Pulih Total Pasca Gempa ◆ Jadi Orang Tua Zaman Now: Lebih Baik Mentor Digital, Bukan Polisi Siber ◆ Pinjol Makin Gampang Diakses, Tapi Jangan Sampai Kalap: Ini Pentingnya Literasi Keuangan Digital ◆ Indonesia Kebut Roket Buatan Sendiri, BRIN Bidik Uji Terbang di 2029
EKONOMI

Pinjol Makin Gampang Diakses, Tapi Jangan Sampai Kalap: Ini Pentingnya Literasi Keuangan Digital

OJK mencatat outstanding fintech lending di Indonesia tembus Rp105,14 triliun per Juni 2026. Di tengah kemudahan akses pinjaman online, berbagai pihak dari platform fintech hingga kampus, mendorong masyarakat lebih bijak lewat literasi keuangan digital dan prinsip responsible borrowing.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 24 Agustus 2026, 14:52 WIB · Diperbarui 25 Agustus 2026, 03:18 WIB · 2 dibaca
Literasi Keuangan Digital
— Foto: elrinconzt

Akses pinjaman digital sekarang tinggal beberapa klik di HP. Isi data, verifikasi, cair. Cepat, praktis, tanpa perlu antre ke bank. Tapi kemudahan ini ternyata datang dengan konsekuensi yang sering dilupakan banyak orang: makin gampang pinjam, makin gampang juga kebablasan.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding fintech lending alias pinjaman daring di Indonesia sudah tembus Rp105,14 triliun per Juni 2026. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran pendanaan digital dalam memenuhi kebutuhan finansial masyarakat sehari-hari, mulai dari modal usaha kecil sampai kebutuhan mendesak.
Tapi di balik angka fantastis itu, ada satu pesan yang terus digaungkan berbagai pihak: masyarakat perlu lebih bijak dalam memanfaatkan layanan pinjaman dan pendanaan digital. Bukan cuma soal seberapa cepat dana cair, tapi juga soal memahami kebutuhan, menjaga arus kas, dan menyelesaikan kewajiban secara bertanggung jawab.

Pinjaman Online
Foto: www.mncduit.co.id

Salah satu platform pinjaman daring, Kredit Pintar, misalnya, mendorong pendekatan yang disebut responsible borrowing lewat program bernama "Teman Atur Uang". Intinya, memberi akses pembiayaan itu cuma setengah dari tanggung jawab. Setengahnya lagi adalah mengedukasi penggunanya supaya nggak asal pinjam tanpa perhitungan matang.
Isu ini bukan cuma soal platform legal aja. Di lapangan, masih banyak pinjol ilegal yang memanfaatkan minimnya literasi masyarakat, dengan bunga selangit dan cara penagihan yang jauh dari etis. Makanya, kemampuan membedakan mana platform yang berizin OJK dan mana yang ilegal jadi skill dasar yang wajib dimiliki siapa pun yang mau pakai layanan keuangan digital.
Beberapa kampus dan lembaga pun mulai gencar bikin program literasi keuangan digital, dari sesi edukasi buat mahasiswa sampai pelatihan buat ibu rumah tangga di tingkat posyandu. Materinya nggak jauh-jauh dari hal dasar: cara menghitung bunga, menyusun anggaran keluarga, sampai menilai kemampuan bayar sebelum ambil pinjaman.
Kenapa ini penting buat semua kalangan, bukan cuma yang "melek finansial"? Karena literasi keuangan digital sebenarnya bukan skill eksklusif buat orang kantoran atau mahasiswa ekonomi. Siapa pun yang punya HP dan akses internet, berarti punya akses ke pinjaman online, entah itu pedagang pasar, driver ojek online, atau ibu rumah tangga yang butuh dana cepat.
Jadi sebelum klik "ajukan pinjaman" berikutnya, ada baiknya tanya ke diri sendiri dulu: ini kebutuhan atau keinginan, dan apakah kemampuan bayar bulan depan udah dihitung dengan jujur? Karena di dunia digital yang serba cepat ini, justru kehati-hatian yang jadi barang paling berharga.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT