Senin, 26 Oktober 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Komdigi Minta Berau Tandai Zona Sinyal Lemah, Rute Wisata Dapat Giliran Pertama ◆ Lonjakan Kebutuhan Listrik Pusat Data Dorong Pemerintah Rapatkan Barisan dengan Pengusaha Daerah ◆ Dari Bali, Indonesia dan Malaysia Rapatkan Barisan Jaga Anak dari Risiko Internet ◆ Listrik, Air, dan Jaringan Cadangan Jadi Syarat Pusat Data AI Melangkah ke Timur Nusantara ◆ Insinyur AI hingga Ahli Siber Diburu, Pemerintah Rancang Fondasi Ekosistem Digital Tepercaya
TEKNOLOGI

Menyimpan Data di Dalam Negeri Belum Cukup untuk Wujudkan Kedaulatan AI Indonesia

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menilai kedaulatan kecerdasan artifisial tidak cukup diwujudkan dengan menempatkan data di pusat data dalam negeri. Indonesia juga harus mampu menentukan arah pengembangan teknologi dan mengoperasikan sistem AI secara mandiri. Nilai ekonomi dari ekosistem digital pun perlu dinikmati di dalam negeri. Pandangan itu disampaikan dalam AI Impact Summit 2026 di Bali, yang bertema Sovereign AI for Indonesia 2045.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 22 Oktober 2026, 23:01 WIB · Diperbarui 26 Oktober 2026, 16:02 WIB · 1 dibaca
Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah dalam AI Impact Summit
— Foto: Komdigi

BALI, DigiTVNews.com -- Memindahkan data ke pusat data di dalam negeri baru satu langkah menuju kedaulatan kecerdasan artifisial (AI). Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah menekankan, Indonesia juga harus memegang kendali atas teknologi yang dipakainya dan menikmati nilai ekonomi yang dihasilkannya.

Pandangan itu disampaikan dalam AI Impact Summit (AIIS) 2026 yang digelar Konsorsium Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA) di Bali pada 21-22 Oktober 2026. Forum bertema Sovereign AI for Indonesia 2045 itu mempertemukan pemerintah, dunia usaha, peneliti, komunitas, dan mitra internasional.

Menurut Edwin, ada tiga hal yang membuat sebuah negara berdaulat di bidang AI. Pertama, kemampuan menentukan arah pengembangan teknologi. Kedua, kemampuan mengoperasikan sistem secara mandiri. Ketiga, kepastian bahwa nilai ekonomi dari ekosistem digital dinikmati di dalam negeri. Ketiganya dinilai menjadi fondasi agar Indonesia punya kendali lebih besar atas perkembangan AI sekaligus mendukung agenda Indonesia Emas 2045.

Sikap serupa pernah ia sampaikan dalam Indonesia Tech Sovereignty Forum yang digelar Telkom pada Mei 2026. Saat itu Edwin menyebut transformasi digital bukan sekadar mempercepat adopsi teknologi. Indonesia juga perlu memiliki kapasitas, ketahanan, dan kendali atas infrastruktur serta ekosistem digitalnya sendiri.

Sehari sebelumnya, dalam pembukaan AI, Cybersecurity, and Innovation Exchange (AICX) 2026 di Denpasar, Selasa (20/10/2026), Edwin menyoroti sisi sumber daya manusia. Ia mengatakan Indonesia perlu berinvestasi pada insinyur AI, profesional keamanan siber, ilmuwan data, pembuat kebijakan, dan tenaga pendidik. Keamanan siber, menurutnya, adalah investasi strategis untuk pertumbuhan dan inovasi, dan perlu diterapkan sejak tahap awal pengembangan teknologi.

Tanpa talenta yang memadai, perusahaan Indonesia berisiko terus bergantung pada sistem dan tenaga ahli dari luar negeri. Akibatnya, manfaat ekonomi bagi industri dan pekerja lokal menjadi terbatas.

Di AIIS 2026, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta AI diarahkan untuk mendorong produktivitas, daya saing industri, UMKM, dan lapangan kerja bernilai tambah tinggi. Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya menghubungkan riset dengan kebutuhan industri.

KORIKA sendiri memperkenalkan empat inisiatif, yakni ai.id, KORIKA Claw, KORIKA Token, dan Project NUSA bersama AI Singapore. Keempatnya dirancang untuk memperkuat identitas digital, orkestrasi layanan AI, partisipasi industri, dan pengembangan AI lokal yang tepercaya.

Dalam rangkaian Bali Tech Week, Edwin juga menyebut ambisi pemerintah memfasilitasi investasi startup sekitar Rp1 triliun sepanjang 2026. Hingga 21 Oktober, sekitar Rp400 miliar telah terealisasi. Angka itu menunjukkan bahwa kedaulatan AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal arus modal dan nilai tambah yang tetap berputar di dalam negeri.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT

NEWSLETTER DIGITV NEWS

Jangan lewatkan berita penting hari ini

Dapatkan berita pilihan, analisis, dan video terbaru DigiTV News langsung melalui email Anda.

Gratis dan dapat dihentikan kapan saja. Lihat detail newsletter