JAKARTA, DigiTVNews.com -- Prestasi tim esports Indonesia di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya membuktikan kualitas atlet nasional. Indonesia membawa pulang dua medali perak, masing-masing dari Pokémon UNITE dan Mobile Legends: Bang Bang (MLBB). Namun, di balik podium tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar: siapa yang menikmati nilai ekonomi dari gim yang dimainkan para atlet?
Pertanyaan itu relevan karena delapan gim yang diikuti Indonesia mencakup Mobile Legends, Honor of Kings, Identity V, Naraka: Bladepoint, Pokémon UNITE, eFootball, Gran Turismo 7, dan PUBG Mobile. Semuanya adalah judul buatan pengembang luar negeri. Indonesia unggul di sisi pemain, tetapi belum di sisi pemilik gim.
Dari sisi atlet, persiapan berjalan serius. Para atlet berlatih intensif sekitar dua bulan dengan dukungan program olahraga, pemenuhan gizi, dan pendampingan dokter. Indonesia menargetkan satu emas, tiga perak, dan empat perunggu secara keseluruhan, sehingga hasil dua perak menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan.
Ketua Umum PB ESI Herindra menilai pengembangan esports tidak bisa lagi ditangani satu organisasi saja. Ia mengajak pemerintah, dunia olahraga, industri kreatif, dan ekosistem digital berkolaborasi, serta meminta kementerian terkait mempermudah perizinan dan jaringan bagi ekosistem yang berpihak pada talenta lokal. Ia juga menyebut esports berpotensi mendorong ekonomi lewat industri kreatif dan gim lokal.
Dari sisi industri, ruang tumbuhnya masih lebar. Ketua Asosiasi Game Indonesia Shafiq Husein menyebut nilai pasar gim Indonesia kini sekitar 2 miliar dolar AS, tetapi kontribusi gim lokal terhadap pasar domestik masih kecil. Di sisi lain, judul seperti Coffee Talk, A Space for the Unbound, dan Coral Island menunjukkan karya Indonesia mampu menarik pemain internasional.
Pemerintah mulai menyiapkan dukungan. Komdigi mempertemukan pengembang gim nasional dengan calon mitra bisnis lewat Indonesia Game Developer Exchange (IGDX), yang mencatat potensi transaksi hingga 170 juta dolar AS. Komdigi juga menggencarkan fiberisasi ke daerah karena konektivitas dinilai tulang punggung bagi pengembang yang mengunggah dan mendistribusikan gim.
Ruang untuk memamerkan karya lokal juga terbuka. Jakarta Esports 2026, yang digelar November mendatang, menghadirkan pameran gim lokal, kompetisi, dan aktivitas komunitas, dengan fokus memperkenalkan gim lokal kepada khalayak lebih luas. Pengunjung dapat mencoba gim buatan pengembang dalam negeri dan bermain bersama pemain profesional.
Dengan begitu, pesan dari Aichi-Nagoya tidak berhenti pada medali. Pembinaan atlet perlu berjalan beriringan dengan penguatan studio, pendanaan, dan distribusi gim lokal, agar suatu hari panggung internasional tidak hanya diisi atlet Indonesia, tetapi juga gim buatan Indonesia.
Belum ada komentar yang ditayangkan.